Rabu, 05 Desember 2012

Klasifikasi Kelas Kata (pertemuan ke 8)


Identitas Mata Kuliah
Nama Mata Kuliah            : Morfologi Bahasa Indonesia
Smester/SKS                    :  Ind III (Ganjil) /3 SKS
Kode Mata Kuliah            :  MKK 11311
Semester                          :  III (Ganjil)
Program Studi                  :  Pend. Bahasa dan Sastra  Indonesia
Dosen pengampu              : Afif Rofii
Pertemuan ke                    :  8

KLASIFIKASI KELAS KATA

1.    Kelas Kata Terbuka
Lelas kata terbuka adalah kelas yang keanggotaanya dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat penutur suatu bahasa. Kelas kata terbuka selalu menjadi dasar dalam proses morfologis. Yang termasuk dalam kelas kata terbuka adalah:
1)      nomina
2)      verba
3)      dan ajektifa.

Ketiga kelas kata terbuka tersebut dapat dilihat karakternya serta dapat diperbandingkan satu sama lain dari anggota kelas adverbia yang dapat mendampingi anggota ketiga kelas utama itu. Anggota kelas adverbia itu menyatakan makna atau konsep negasi, frekuensi (kekerapan), jumlah, komparasi, kala (tenses), perfeksi (keselesaian), keharusan dan kepastian.
Jenis adverbia
1.      adeverbia negasi
-          bukan
-          tidak
-          tanpa
2.      adverbia frekuensi
-          sering
-          jarang
-          kadang-kadang
3.      kuantitas (jumlah)
-          banyak       - sedikit
-          kurang       - cukup

4.      kualitas (derajat)
-          agak           - cukup
-          lebih          - kurang
-          sangat        - sekali
-          paling        - sedikit
5.      kala (tenses)
-          sudah         - sedang
-          tengah       - lagi
-          akan           - hendak
-          mau (akan)
6.      keselesaian (perfekt)
-          belum        - baru
-          sedang       - sudah
7.      keharusan
-          boleh         - harus
-          wajib         - mesti
8.      kepastian
-          pasti           - tentu
-          mungkin    - serigkali

a.       Kata-kata kelas nomina tidak dapat didampingi oleh adverbia frekuensi, adverbia derajat, adverbia kala, dan adverbia keselesaian, namun dapat didampingi adverbia kuantitas, adverbia negasi (bukan, tanpa), dan adverbia keharusan (boleh, harus) serta adverbia kepastian tetapi dengan persyaratan  sebagai kalimat jawaban.

b.      Kata- kata kelas verba dapat didampingi oleh adverbia negasi (tidak, tanpa), adverbia frekuensi (sering, jarang), adverbia jumlah (banyak, sedikit, kurang, dan cukup), adverbia kala, adverbia keselesaian, adverbia keharusan dan adverbia kepastian. Dapat didampingi adverbia negasi (bukan) tetapi dengan persyaratan yaitu digunakan dalam konstruksi berkontras.
Misalnya: dia bukan menyanyi, melainkan berteriak-teriak.

c.       Kata-kata berkelas ajektifa dapat didampingi oleh semua adverbia derajat, semua adverbia keselesaian dan semua adverbia kepastian, tetapi tidak dapat di dampingi oleh adverbia keharusan adverbia frekuensi dan adverbia jumlah. Dapat didampingi oleh negasi (bukan) tetapi dengan persyaratan yaitu dalam konstruksi berkontras.
Misalnya: warnanya bukan merah melainkan oranye.

A.  Nomina
Ciri utama kelas kata nomina dilihat dari adverbia pendampingnya adalah:
-          Tidak dapat didahului oleh adverbia  negasi tidak.
-          Tidak dapat didahului oleh adverbia derajat agak (lebih, sangat, dan paling)
-          Tidak dapat didahului oleh adverbia keharusan wajib
-          Dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah seperti satu, sebuah, sebatang, selembar, dan sebagainya.
Dari segi bentuk nomina turunan dapat dikenali dari afiks-afiks yang diimbuhkan pada dasar yakni bentuk:
-          Berprefiks             : pe-, per-
-          Berkonfiks                        : pe-an, per-an, ke-an
-          Bersufiks               : -an

B.       Verba
Ciri utama verba atau kata kerja dilihat dari adverbia yang mendampinginya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas verba.

-          Dapat didampingi oleh adverbia negasi (tidak dan tanpa)
-          Dapat didampingi oleh semua daverbia frekuensi (sering, jarang, kadang-kadang)
-          Tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan penggolongan (sebuah, sebutir, selembar), namun dapat didampingi oleh semua adverbia jumlah (sedikit, kurang, cukup)
-          Tidak dapat didampingi oleh semua adverbia derajat.
-          Dapat didampingi oleh semua adverbia kala (sudah, sedang, tengah, lagi, akan, hendak, mau).
-          Dapat didampingi oleh semua adverbia keselesaian (belum, baru, sedang, sudah).
-          Dapat didampingi oleh semua anggota adverbia kepastian (pasti, tentu, mungkin, barangkali)

Secara morfologi verba yang berupa kata turunan dapat dikenali dari bentuknya.
-          Berprefiks ber-
Berkonfiks ber-an
Berklofiks ber-an
Berklofiks ber-kan
-          Berprefiks me-
Berklofiks me-kan
Berklofiks me-i
Berklofiks memper-
Berprefiks me- dan konfiks per-kan
Berprefiks me- dan berkonfiks per-i
(masing-masing dengan bentuk pasifnya berprefiks di-, berprefiks ter- dan berprefiks zero)
-          berprefiks ter-
berkonfiks ter-kan
berkonsfik ter-i
-          berprefiks se-
-          bersufiks –kan
-          bersufiks –i


C.  Ajektifa
Ciri utama ajektifa dari adverbia yang mendampinginya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas ajektifa.

-          Tidak dapat didampingi oleh adverbia frekuensi (sering, jarang, kafang-kadang)
-          Tidak dapat didampingi oleh adverbia jumlah (banyak, sedikit, sebuah)
-          Dapat didampingi oleh semua adverbia derajat (agak, cukup, lebih, sangat, sedikit, jauh, paling)
-          Dapat didampingi oleh adverbia kepastian (pasti, tentu, mungkin, barangkali)
-          Tidak dapat diberi adverbia kala (hendak, mau)

Secara morfologi ajektifa yang berupa kata turunan atau kata bentukan dapat dikenali dari sufiks-sufiks (yang berasal dari bahasa asing)

-          -al (faktual, ideal gramatikal)
-          -il (prinsipil, idiil, materiil)
-          -iah (alamiah, ruhaniah, harfiah)
-          -if (efektif, kualitatif, administratif)
-          -ik (mekanik, patriotik, heroik)
-          -is (teknis, kronologis, pancasilais)
-          -istis (materialistis, optimistis, egoistis)
-          -i (islami, alami, jasadi)
-          -wi (duniawi, surgawi, kimiawi)
-          -ni (grejani)
             
2.        Kelas Kata Tertutup

Kelas kata tertutup adalah kelas kata jumlah keanggotaanya terbatas dan tidak tampak kemungkinan untuk bertambah atau berkurang. Yang termasuk kelas kata tetutup adalah kelas adverbia, kelas preposisi, kelas konjungsi, kelas artikula, dan kelas interjeksi.

A.    Adverbia

Adverbia lazim disebut kata keterangan atau kata keterangan tambahan. Fungsinya adalah menerangkan kata kerja, kata sifat, dan jenis kata lainnya. Adverbia disebut juga kata-kata yang bertugas mendampingi nomina, verba, dan ajektifa. Adverbia pada umumnya berupa bentuk dasar. Sedikit sekali yang berupa kata bentukan. Yang berupa kata bentukan ini secara morfologi dapat dikenali dari bentuknya

-          Berprefiks se- (sejumlah, sebagian, seberapa, semoga)
-          Berprefiks se- dengan reduplikasi (sekali-kali, semena-mena)
-          Berkonsfiks se-nya ( sebaiknya, seharusnya, sesungguhnya, sebisanya)
-          Berkonfiks se-nya disertai reduplikasi (selambat-lambatnya, secepat-cepatnya, sedapat-dapatnya)
dari segi semantic, yakni dari komponen makna utama yang dimiliki dapat dibedakan menjadi:
-          negasi (tidak, bukan, tanpa tiada)
-          frekuensi (sering, jarang, kadang-kadang, biasa, sekali-kali, acap kali, selalu)
-          kuantitas/jumlah (banyak, sedikit, cukup, kurang, semua, seluruh, sebagian, seberapa)
-          kualitas/derajat (agak, cukup, lebih, kurang, sangat, paling, sedikit, sekali)
-          waktu/ kala (sudah, sedang, lagi, tengah, akan, hendak, mau)
-          keselesaian (sudah, belum, baru, sedang)
-          pembatasan (hanya, saja)
-          keharusan (boleh, wajib, harus, mesti)
-          kepastian (pasti, tentu, mungkin, barangkali )

B.     Pronomina
Pronomina lazim disebut kata ganti karena tugasnya memang menggantikan nomina yang ada. Secara umum dibedakan menjadi empat macam pronomina yaitu:
-          Pronomina persona (kata ganti diri)
-          Pronomina demostrativa ( kata ganti penunjuk)
-          Pronomina interogatifa (kata ganti tanya)
-          Pronomina tak tentu

a)      Pronomina persona (kata ganti diri)
Kata ganti diri adalah pronomina yang menggantikan nomina orang atau yang diorangkan, baik berupa nama diri atau bukan nama diri. Kata ganti diri dibedakan atas:

-          Kata ganti diri orang pertama tunggal (saya, aku, beta), orang pertama jamak (kami kita)
-          Kata ganti diri orang kedua tunggal (kamu, engkau), orang kedua jamak (kalian kamu sekalian)
-          Kata ganti diri orang ketiga tunggal (ia, dia, nya), orang ketiga jamak (mereka)

b)      Kata ganti penunjuk (demonstratifa)
Kata ganti penunjuk atau pronomina demostratifa (ini, itu) yang digunakan untuk menggantikan nomina sekaligus dengan penunjukkan. Kata ganti penunjuk ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dekat dengan pembicara, sedangkan kata ganti penunjuk itu digunakan untuk menunjuk sesuatu yang jauh dari pembicara.

c)      Kata ganti tanya (interogatifa)
Kata ganti tanya atau pronomina interogatifa adalah kata yang digunakan untuk bertanya atau menanyakan sesuatu (nomina atau kontruksi yang dianggap sebagai nomina) kata ganti tanya ini meliputi: apa, siapa, kenapa, mengapa, berapa, bagaimana, dan mana.

d)     Pronomina tak tentu
Pronomina tak tentu atau kata ganti tak tentu adalah kata-kata yang digunakan untuk menggantikan nomina yang tidak tentu. Yang termasuk akata ganti tak tentu adalah seseorang, salah seorang, siapa saja, setiap orang, masing-masing, suatu, sesuatu, salah satu beberapa dan sewaktu-waktu.

C.    Numeralia
a)      Kata bilangan atau numeralia adalaha kata-kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urutan dan himpunan. Menurut bentuk dan fungsinya dikenal adanya kata bilangan utama (satu, dua, lima), bilangan genap (dua, empat dua belas), bilangan ganjil (tiga, lima, tujuh), bilangan bulat, bilangan pecahan, bilanan tingkat (pertama, kedua) dan kata bantu bilangan.

b)      Kata bantu bilangan
Kata bantu bilangan disebut juga kata penjodoh bilangan, atau kata penggolong bilangan atau kata-kata yang digunakan sebagai tanda pengenal nomina tertentu dan ditempatkan di antara kata bilangan dengan nominanya. Yang termasuk dalam kata bantu bilangan adalah: ekor, buah, batang, helai, butir, biji, pucuk, bilah, mata, tangkai, kuntum, tandan, carik, kaki, pasang, dan rumpun.

D.    Preposisi
Preposisi atau kata depan adalah kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa.

Secara semantik preposisi menyatakan makna sebagai berikut:
-          Tempat berada (di , pada, dalam, atas, antara)
-          Arah asal (dari)
-          Arah tujuan (ke, kepada, akan, terhadap)
-          Pelaku (oleh)
-          Alat (dengan, berkat)
-          Perbandingan (daripada)
-          Hal atau masalah (tentang, mengenai)
-          Akibat, batas waktu (hingga, sehingga, sampai)
-          Tujuan (untuk, buat, guna, bagi)

E.     Konjungsi
Konjungsi atau kata pengubung adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara frase dengan frase, antara klausa dengan klausa atau antara kalimat dengan kalimat.


Dilihat dari tingkat kedudukannya dibedakan atas:

a)      Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara.

-          Menghubungkan atau menjumlahkan (dan, dengan, serta)
-          Menghubungkan atau memilih (atau)
-          Menghubungkan mempertentangkan (tetapi, namun, sedangkan dan sebaliknya)
-          Menghubungkan membetulkan (melainkan, hanya)
-          Menghubungkan menegaskan (bahkan, malah, malahan, lagipula, apalagi, jangankan)
-          Menghubungkan membatasi (kecuali, hanya)
-          Menghubungkan mengurutkan (kemudian, lalu, selanjutnya, setelah itu)
-          Menghubungkan menyamakan (yaitu, yakni, ialah, adalah, bahwa)

b)        Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (klausa) yang kedudukannya tidak sederajat. Artinya, kedudukan klausa yang satu kebih tinggi (sebagai klausa utama) dan yang kedua sebagai klausa bawahan atau lebih rendah dari yang pertama.
Konjungsi ini dibedakan atas:
-          Menghubungkan menyatakan sebab akibat (sebab, karena)
-          Menghubungkan menyatakan persyaratan (kalau, jika, bila, bilamana, apabila, asal)
-          Menghubungkan menyatakan tujuan (agar, supaya)
-          Menghubungkan  menyatakan waktu (ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala, sejak, sambil, selama)
-          Menghubungkan menyatakan akibat, yaitu konjungsi sampai, hingga, dan sehingga)
-          Menghubungkan menyatakan batas kejadian (sampai, hingga)
-          Menghubungkan menyatakan tujuan atau sasaran (untuk, guna)
-          Menghubungkan menyatakan penegasan (meskipun, biarpun, kendatipun, sekalipun)
-          Menghubungkan menyatakan pengandaian (seandainya, andaikata)
-          Menghubunkan menyatakan perbandingan (seperti, sebagai, laksana)

c)         Konjungsi antarkalimat
Konjungsi antar kalimat adalah konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain yang berada dalam satu paragraf.
Dari sifat hubungannnya dibedakan atas:
-          Menghubungkan dan mengumpulkan (jadi, karena, oleh sebab itu, kalau begitu, dengan demikian)
-          Menghubungkan menyatakan penegasan (lagipula, apalagi)
-          Menghubungkan mempertentangkan atau mengontraskan (namun, sebaliknya)

F.     Artikula
Artikula atau kata sandang adalah kata-kata yang berfungsi sebagai penentu atau mendefinisikan sesuatu nomina, ajektifa, atau kelas lain. Artikula dalam bahasa Indonesia adalah si, sang.


G.    Interjeksi

Interjeksi adalah kata-kata yang mengungkapkan perasaan batin misalnya karena kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya. Interjeksi terbagi menjadi dua yaitu interjeksi yang berupa kata singkat (wah, cih, hai, oi, oh, nah, hah) dan interjeksi yang terdiri dari kata-kata biasa ( aduh, celaka, gila, kasihan, bangsat, astaga. Alhamdulillah, Masyaallah dsb).

H.    Partikel

Partikel dalam bahasa Indonesia antara lain adalah kah, lah, tah, dan pun. Partikel ini berfunhsi sebagai penegas dalm tuturan.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar